Welcome to iCa's Scratch. Happy reading! PLEASE REMEMBER: Act creatively, DON'T COPY and PASTE without the original author. Make creations with your own mind, it will be more appreciated than you steal people's work. Thanks♥
Tampilkan postingan dengan label Merangkai Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Merangkai Sajak. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Maret 2014

Masih Pria yang Sama

Kali ini aku benar tidak mabuk ataupun mengigau, aku sadar terlalu pagi ketika rindu kusebar. Sialnya masih tentang kamu. Siapa lagi kalau bukan lelaki yang pernah aku cirikan pada postingan sebelumnya. Pagi ini, namamu melintas. Hanya dengan mendengar saja, jantungku masih dalam debaran yang dahsyat.

Sudah satu bulan terakhir aku tak mengontakmu, sedihnya kamu pula tak berniat mencariku. Terakhir kali aku mengirim pesan singkat, namun nyatanya kamu tak membalas. Sudah dua kali bahkan kamu begitu dan aku kesal, tak mau yang ketiga kalinya akan menjadi sarang kesesakkan. Semua yang tersisa hanya kenangan selama tiga bulan, itupun terhitung dari hari ulang tahunmu, dan belum genap bulan Februari, apa yang ku bilang kebahagiaan berakhir. 

Apa yang merubahmu, aku tak tahu. Nyata aku sangat ingin tahu. Tetapi sesuatu yang membuatku menjadi tahu tak kunjung menghampiri. Aku kini hanya bisa menerka, "Baik, ini permainanmu. Mungkin alasan kamu tak membalas pesanku gara-gara kamu ingin fokus dengan ujianmu. Jadi seusai masa-masa sulit ujianmu itu, pasti kabarmu akan terdengar lagi."
Tetapi bodohnya, ini semakin membuatku berharap lebih. Berharap dia kembali? Bukannya aku sudah berniat melepas? Aku benci saat begini, merindu seseorang yang dianya sendiri lebih mengarah tak peka.

Lebih baik mencinta atau dicinta? Bagiku keduanya menanggung resiko. Ada temanku yang bilang, "Kalau kamu bisa mencintai seseorang dalam jarak jauh, berarti kamu tak melihat dia hanya karena keadaan fisik. Jadi kalau kamu bisa bertahan lama dalam hubunganmu yang rumit itu, aku kira kamu cukup tangguh." 
Ya tangguh dan sabar apa bedanya? Jadi bisa saja kubilang kalau ketangguhan ada batasnya, bukan? Dalam harap yang tak pernah kamu tahu, aku ingin kamu selalu baik-baik saja. Oh iya kamu harus semangat, tinggal dua minggu lagi ujian nasional, Kak! Aku berdoa semoga kita dalam berkat satu kata "Sukses". Biarkan kuasa Roh Kudus yang mengalir. Bukannya aku ngebandel malah enggak belajar atau enggak deg-degan sama sekali, tetapi jujur ini merupakan caraku terapi sebenarnya, karena aku tak tahu bagaimana layaknya rindu ini ku letakkan kalau orang yang ku rindu saja tak mau menerima.

Sebelumnya maaf, aku tak mampu memberi tahu tentang project #30HariMenulisSuratCinta adalah kamu sebagai inspirasinya. Dan tentang semua curhatan yang pernah ku bagi dengan adik manismu, hmm... (mungkin) kamu juga sudah tahu cerita lengkapnya. Bisa kutebak, bagaimana hal itu menjadi alasan kamu menjauh. Kini mentari telah datang menantang. Aku paksa sudahi, lamunan tentangmu hilang.

Jumat, 14 Februari 2014

Tersimpan Tanya Penasaran

Malam ini adalah malam Sabtu. Terserah kamu kalau kamu juga ingin menyebutnya sebagai hari valentine. Aku tak peduli. Yang aku pedulikan adalah bagaimana cara mengatasi sepi. Tak lama sepi menghampiri. Apalagi setelah beberapa menit dari menghilangnya kakak berambut keriting itu. Lagi dan seharusnya aku bisa memaklumi tentang menghilangnya dia. Benar, dia hilang dari percakapan singkat yang lagi-lagi sedang ku mainkan di dunia maya. Bodoh, baru saja aku bisa mengingat. Mengingat tentang perihal tulisan yang pernah ditanyakan oleh seorang anonymous pada akun Tumblr yang kumiliki.


Akhir-akhir ini disela-sela ujian praktek sekolah yang tengah kujalani, aku menyempatkan diri sebisa mungkin untuk menulis. Sebut saja aku sedang menyelami hobiku dalam suatu ajang menulis yang diadakan oleh @PosCinta di Twitter. Dalam ajang tersebut project yang ku ikuti adalah #30HariMenulisSuratCinta. Disini para penulis amatir berupaya menyelesaikan tugas untuk berkomitmen menulis selama 30 hari penuh disela-sela rutinitas mereka. Sulit memang, tetapi kalau sudah menjadi hobi, bukankah itu akan menjadi suatu hal yang menyenangkan untuk dikerjakan? :)
Dan di Tumblr ku itulah [http://bubbleagum.tumblr.com] aku lebih sering berpuitis ria.
Kamu tahu? Sampai surat ke-14 yang telah ku tuliskan, kebanyakkan inspirasi yang ada di otak ku berasal dari kakak kelas yang dahulu pernah ku ceritakan padamu pada postingan sebelumnya. Baru kemarin aku membuka blog ku ini, maka baru sadar pula kalau aku pernah bercerita begitu detail tentang orang yang ku kagumi itu. Entah saat ini masih bisa dibilang kagum atau apa, tetapi kalau pesan singkat ku itu tak dibalas olehnya, hariku bisa cemburut mendadak. Nampaknya dugaan benar, kalau dia (kembali) menjadi mood booster'ku untuk 3 bulan terakhir ini.


Untuk kamu yang telah membaca postinganku yang berjudul, "Cinta dan Merindunya dalam Diam" terima kasih banyak. Sampai tiba-tiba aku menemuimu dalam akun Tumblr ku:


Nah yang buat aku penasaran, jadi siapa sebenarnya si anonymous itu?
Rasanya aku mengenalmu,
Namun dari tulisanmu,  aku sedikit sebal.


Kamu tahu salahmu?
Pertama:
Kamu mengetikkan nama belakangku dengan ejaan yang salah. Kamu tahu, Tuan? Nama belakang ku bukan dengan "Setyawan" tetapi yang benar adalah "Setiawan." Yah...walapun kalau ketika kamu mengucapkannya akan terdengar sama, tetapi beda ya jelas enggak sama.
Kedua:  
Kamu menuliskan, "I'll always love you Zeaneth Annisa..."
Wow kamu berhasil membuat hatiku terbang entah kemana. Namun, kamu pikir kamu siapa? Bukan maksud ku agar kamu berhenti menyayangiku, namun rasanya memiliki sesosok "teman yang selalu mencintai" seseorang seperti ku, sangat terlalu mudah ku anggap istimewa bahkan berlebihan mungkin.
Ketiga:
Mengapa kamu harus menjadi anonymous jika kamu bisa menuliskan nama aslimu? Aku penasaran denganmu. Apalagi ketika kamu bilang, "Jika seseorang yang kamu bilang bertemu di dunia maya itu seandainya benar aku."
Nah, benar aku-nya di kamu itu siapa? Apa benar anonymous sepertimu adalah orang yang sering kuamati kala SD di kota Cikarang, lalu kamu yang pernah menjadi komandan upacara tiba-tiba membuat riuh suasana karena kepingsananmu, lalu kamu yang kuanggap begitu berartinya sapaanmu itu, lalu kurang apalagi yang membuat semua pikiranku tertuju padamu???


Aku dengan segala tanyaku mencoba mencari celah tentang siapa sesosok anonymous. Kamu tahu, anonymous itu bisa ku artikan secara global. Awalnya kukira memang dia, tetapi semua tanya yang ku lontarkan untuknya di dunia maya itu nampaknya mengarahkan ke yang lain. Memang belum secara frontal aku menanyakan padanya, tetapi dari gerak-gerik yang kubaca, memang bukan dia...
Kecewa...
Segala tanya tak nian mereda,
Amarah seakan murka,
Biarkan saja semalam ini mereka bergumam dibenak ku membara,
Dengar Tuan Anonymous, aku menyimpan tanya..
Karena kutipan ini semakin menjadi,
"Pembuat perasaan paling nyata adalah penasaran" - Jejak Sajak 

Sabtu, 01 Februari 2014

Cinta dan Merindunya dalam Diam

Ada masa dimana air mata jatuh ketika rindu menghampiri secara perlahan. Aku mungkin sudah gila. Semenjak ulang tahunmu itu tiba, aku hanya sekedar mengucap kata, "Happy birthday kak!" lalu ada angin apa kau pun menyapa. Kukira selama ini kamu tak mengenalku, ternyata itu salah. Semenjak itupun, kami saling bertegur sapa, berbagi cerita, ia membantu ku dalam mengerjakan tugas, lalu ada masa dimana kami saling melontarkan ledekan, dan tertawa bersama. Namun ketahuilah, semua itu hanya sebatas percakapan kami di dunia maya. Selebihnya aku tak tahu apa yang terjadi.

Aku mungkin terlalu cepat berlari. Sampai kaki ini hilang kendali. Lancang atau bahkan aku terlalu terburu-buru untuk mengungkapkan perasaanku dengannya itu hal bodoh yang ku lakukan. Setelah kejadian malam Rabu tersebut, ku kira perasaan terpendam yang selama ini tak ku ungkapkan akan berkurang. Tetapi lagi-lagi aku salah, justru perasaan itu makin menggeram. Aku semakin kagum terhadapnya. Andai dia tahu, betapa penting dan berartinya ketika dia hanya mengucapkan, "Hai viscaaaa!!!" dalam sebuah pesan singkat. Tiap hari, aku tak bisa lepas dari handphone ku. Apapun semua tentangnya, aku sungguh tertarik. Hati dan mataku telah buta. Buta akan hal semu yang hanya sekedar berlangsung pada dunia maya.

Sedikit cerita tentangnya, dia adalah kakak kelasku semasa aku duduk di Sekolah Dasar di kota Cikarang. Waktu itu aku anak pindahan yang boleh dibilang polos, dan belum tahu kehidupan dunia pinggiran Jakarta. Pada saat itu, aku kelas 5 dan dia kakak kelas ku yang duduk di kelas 6. Dia setingkat lebih tua setahun dibandingkan ku. Entah dari mana awal mulanya perasaan suka itu muncul. Aku hanya sekedar melihat dia dari jauh. Melihat segala gerak-gerik tentangnya yang kadang konyol. Salah satunya ketika dia menjadi komandan upacara, aku tahu dia berada di tengah lapangan menjadi pusat perhatian. Panas pun kian menyengat, aku yang berdiam pada barisan kelasku terus-terusan mengamatinya secara diam-diam. Sepersekian menit kemudian, aku kaget. Apa yang tak menjadi dugaan ku terjadi. Kamu tahu? Kakak itu mendadak terkulai lemas dan pingsan. Semua riuh, salah satu dari guru pun menggotong dia untuk dibawanya ke UKS. Namun, sesaat setelah kejadian itu aku hanya tertegun diam. Tapi lagi-lagi aku tak bisa berbuat apapun.

Lain waktu, berganti cerita. Kini aku cukup sering bertegur sapa dengannya, namun baginya mungkin aku hanya dianggap teman, adik kelas, atau bahkan pengganggu bagi hidupnya. Status tak berubah. Bahkan biarpun perasaan yang telah terungkapkan pun tak menjadi jaminan untuk merubah keadaan. Sulit untuk meyakinkan seseorang apalagi kami terbentang oleh jarak. Dia di Jakarta, sementara aku di Solo.

Malam ini adalah malam yang tanpa kabar darinya. Dan aku memiliki kesempatan untuk  membahagiakan diriku dengan caraku, contohnya yaitu dengan menulis tentangnya. Ini merupakan cara untuk melarikan diri. Lari untuk bersembunyi dari keramaian, sehingga aku bisa memeluk rinduku sendiri. Inginku membuang sebagian rindu ini, namun apa daya hati tak sanggup. Mulut mudah bilang, "Baik, besok aku berhenti. Aku enggak lagi chat sama dia. Aku enggak bakal nyapa dia lagi." Namun hati mental tempe, dia berontak. Hati tak kuasa menahan. Dan kian memaksa untuk merindunya, disisi lain hati juga membujuk ku untuk bersikap egois. Dia berkata, "Udah jangan gegabah. Tunggu dia menyapa kamu terlebih dahulu. Jangan terus-terusan kamu yang menyapanya." Lain hati lain juga dengan otak. Otak pun ikut campur. Ia terus memaksaku untuk tak henti memikirkannya. Ah mengapa semuanya bertentangan seperti ini? Cukup. Apa lagi yang harus ku lakukan? Entah kisah ini akan bermuara kemana...
"Karena cinta dalam diam hanya menyisakan harap yang tak akan pernah terungkap." - @LeaVisca

Rabu, 22 Januari 2014

Rindu Lagi

Malam tenang, sepi meradang
Dingin kian menusuk
Tanpa berselimut, ku hanya menelungkup eratkan kedua kaki
Benar, tak ragu...
Lagi, lagi, dan teruntuk sekian kali,
Aku memeluk rindu

Tuan, bagaimana kabarmu?
Akankah dalam mimpi kita kan bertemu?
Sudikah engkau bertamu,
Menggenapi kisah pilu masa lalu

Tuan, aku tak cukup pintar melupakan
Menahan untuk tak lupa misalnya,
Itu yang justru kerap ku lakukan
Boleh caci aku, kalau Tuan berkenan
Namun apa guna kalau hati telah mati?
Menjadi racun yang membusuk
Mematahkan kelokan aral

Ku mohon, kala pahlawan melintas,
Ia akan segera mengusir sesak ini
Merindumu hanya mengiris hati
Tak usah banyak berandai,
Nyata kamu tak akan kembali
Nyawaku pergi bebas teriak berdansa menari


Jumat, 20 Desember 2013

Percakapan Absurd Embun dan Matahari


Sudah sekian lama aku tak menulis ditempat ini. Boleh kubilang karena kesibukkan yang lebih sering menemaniku. Aku sudah duduk di bangku kelas 12 SMA, dan itu hanya tinggal beberapa bulan lagi aku harus menempuh try out, ujian praktik, ujian nasional, dan tentu aku masih berharap banyak bisa menempuh ke jenjang pendidikan di perguruan tinggi favorit tentunya. Hmm... mumpung ini aku lagi lowong gara-gara di sekolah sedang mengadakan class meeting, jadi aku iseng mau ngepost sebuah cerita tentang Embun dan Matahari.
  
Dahulu embun dan matahari pernah menjalin sebuah hubungan. Embun sangat menyayangi matahari. Termenung dalam hening, embun sampai saat ini belum dapat melepas bayangan matahari. Andai kamu tahu, sebenarnya kala itu hubungan antara Embun dan Matahari hanya mainan belaka. Matahari tak pernah benar menyayangi Embun. Namun, seberapa ahli actingnya sehingga tak ada satupun makhluk ciptaan Tuhan lain yang tahu tentang itu. Sampai akhirnya, mereka berpisah. Setelah perpisahan itu, sebegitu kejamnya teman Matahari berani mencaci Embun, “Kasihan ya yang cuman dijadiin pelarian.” Hati sakit, namun Embun tahu benar bahwa dia menyayangi Matahari dengan tulus. 

Cobaan begitu berat, ketika selang beberapa bulan lamanya akhirnya Matahari kembali dekat dengan Embun. Dia kerap kali sms, menelepon, dan memberi kabar tentang kisah hidupnya yang sekarang. “Tuhan, bagaimana bisa aku menghindari dari kedekatan ini?” Embun selalu tak dapat menahan segala emosinya untuk tidak membalas perhatian dari Matahari. Embun berandai-andai, “Apakah mungkin ini jalan untuk kembali padanya? Tetapi bagaimana dengan perasaanku yang pernah tersakiti olehnya? Apa aku harus sekejap memaafkan? Ternyata memang benar... sakit rasanya... tetapi aku juga masih jatuh cinta terhadapnya. Tentang pesonanya, parfumnya, tingkahnya, kebodohannya, senyumnya dan tawanya. Sungguh, aku mencintainya.”

Baru saja Embun menemukan secarik kertas. Kertas itu berisikan coret-coretan sebuah larik diarynya. Disana tertulis nama Matahari dengan jelas bertinta hitam. Embun membaca perlahan, teringat benar akan kenangan yang pernah ia lalui dengan Matahari. Selama ini, ia berusaha untuk melupakan Matahari, namun dalam sekejap air matanya menetes. Seakan hatinya patah kembali, dia menyadari telah sekian tahun ini dia mencoba mencari yang lain namun layaknya iklan mie, kalau rasa tidak pernah bohong. Diatas kertas bergaris hijau itu tertulis:
Percakapan ku dengan Matahari ketika ia meneleponku kala tengah malam. Mataku masih sayu, langsunglah tanpa sadar aku menerima panggilan tersebut..."

Embun: “Halo??!” 

Matahari: “Halo, kamu udah tidur ya?”

Embun: “Ini siapa?”

Matahari: “Aku Matahari. Kamu enggak kenal sama suaraku?”

Embun: (Dirinya sangat kaget, dan langsung tersadar dari rasa kantuknya)“Oh hmm... ka... ka... mu... ke... kenapa telepon aku?”

Matahari: “Oh jadi ceritanya enggak boleh? Aku tutup lho.”

Embun: “Bu... bu... bukan maksudku gitu, tapi aku enggak nyangka aja.” (Dasar bodoh, kenapa aku jadi berkesan agak senang gini jawabnya, hihi tapi nyatanya emang senang sih hiks)

Entah mengalir kemana percakapan kala tengah malam itu. Sampai akhirnya Matahari mengintrogasi pertanyaan yang sebenarnya sangatlah privasi. Lagi dan lagi tentu Embun tidak dapat mengelak. “Bodoh! Percakapan macam apa ini? Masa dia nanya-nanya:

M: “Kamu udah bisa lupain dia (mantan gebetan Embun) belum?”

E: (Kasih tau engga yaaaa.....)

M: Kalau semisal aku (Matahari) sama dia (mantan gebetan Embun) bakalan nembak kamu secara bersamaan, jadi kamu bakal lebih milih siapa?

E: (Milih siapa aja boleh yang penting enggak nyakitin.)

M: “Kamu udah bisa lupain aku belum sih sebenernya?”

E: (Apadeh lo mau tau banget tentang perasaan gue. Trus abis itu lo mau nyakitin lagi gitu. Hah??!)

M: “Kamu kenapa mau lupain aku?”

E: “Kepo! Alesan utamanya ya gara-gara kamu udah nyakitin aku. Jadi aku mau hapus semua kenangan tentang kamu dari pikiran aku. Udah ngerti?”

M: “Lah terus udah bisa lupainnya?”

E: “Belum. Ini lagi nyoba.” (Dengan perasaan dongkol bercampur malu Embun menjawab perasaan konyol tersebut)

M: “Hahaha... mending gini aja, kalau kamu enggak bisa lupain aku. Yaudah, gausah kamu lupain akunya.

E: “Berharap banget enggak dilupain deh. HA HA HA!”

M: “Iya, karena aku enggak suka dilupain.”

E: (Hei jawaban apaan itu? Simple tapi nyambung sih ya-_-)

Jadi secara singkatnya percakapan via telepon itu berlangsung sangat absurd. Namun, hal itu yang Embun rindukan. Percakapan singkat, dalam langit gelap pekat, dan nada suaranya yang hangat. Sungguh Embun merindukan lelaki itu. Walau dia tahu, Matahari tidak akan pernah memutar arah untuk kembali pada Embun. Namun bagimu Matahari, dengarkanlah bahwa Embun sangat menyayangimu. Embun berbisik dalam hati lirih,
"Dia ada disana, angin membawa hatinya semakin jauh. Dia tinggalkan aku sebentuk hati yang luka, yang terus terluka sama merahnya darah." - Huangjiajia

Rabu, 13 Maret 2013

Layaknya Kupu yang Inginkan Bebas

Kupu itu terbang tinggi. Hilir mudik berkeliling kesana-kemari. Kepakkan sayap menyamai peri. Tahukah Tuhan? Aku ingin bebas seperti mereka. Begitu cantik, begitu indah, begitu menawan, begitu bebas tidak ada yang mengekang. Kadang apa yang aku lakukan hanya terbatas aturan. Hati tidak sedikitpun bicara untuk sepenuhnya melakukan.
Oh ini seperti kamu, yang bermain cinta. Ngakunya sayang, namun hatimu membangkang. Itu hanya terucap pada bibir manismu belaka. Hmm... pernahkah kamu dengar lirik lagu ini?
"Lidah tidak bertulang
Ucapan cinta mengiris kalbu
Cinta dihati terkubur lagi..."

Adakah kamu mengerti?
Aku menyukai liriknya. Mungkin jika aku hayati, air mataku masih bisa terjatuh tak berarti.
Baik, kembali ke topik awal, aku tidak menawan seperti sang kupu. Namun, aku pernah merasakan bahwa aku memiliki sayap.
Adakah tuan menyadari?
Semenjak tuan datang, aku merasakan bahwa sayap itu tumbuh. Aku belajar untuk terbang. Kuingat benar, dirimulah yang membimbingku untuk membuka sayap, mencoba untuk mengepakkannya, melihat nyata bahwa diriku indah. Selain itu semenjak itu pula hidupku seakan berarti. Tetapi, semenjak kutahu kamu dengan kepuraanmu. Sayapku rapuh, akhirnya patah. Bisakah aku kembali menemukan seseorang yang dapat menumbuhkan sayap itu? Tunggu. Aku sudah mencoba. Tidak hanya sulit. Tetapi juga rumit.
Seperti kutipan inilah aku kini berada...
"Seekor kupu yang patah hati hinggap di ranting kering, perasaannya berdebar: ternyata ada sepi yang lebih menakutkan dari kebebasan." - @amresza

Selasa, 12 Maret 2013

[Puisi] Jiwa Punah Tak Berarti

Semua berjalan begitu cepat,
Kulihat mendung, nian memandarkan kilat
Saya tidak ingin kembali mengingat
Masa dimana kamu pernah menggores luka menoreh penat

Kamu pergi menggandeng pilihanmu
Dan saya memang sudah seharusnya turut pergi meninggalkanmu
Namun kadang kamu mengekang
Membuat langkah saya menjadi aral melintang

Dalam benakmu adakah terpikir?
Saya dan kamu adalah dua insan yang berbeda
Namun...
Saling menyakiti,
Saling membenci,
Saling mempermainkan,
Dan saling memberi kebohongan satu dengan yang lain 

Mengertilah...
Saya dan kesedihan kini sudah semakin bersahabat
Berharap hujan lekas menghapus kenangan yang tergenggam erat
Dan janganlah kamu mendekat
Menjerat saya memekik suara kegaduhan
Untuk terjatuh kembali dalam petirmu yang sunyi
Karena kini, puisi jiwaku punah tak berarti









Rabu, 12 Desember 2012

Matahari dan Embun Tidak Pernah Berjalan Beriringan


Ini mungkin akan berkisah tentang waktu, dan tentang kamu yang pergi tanpa bisa ku elakkan. Senja sore, kamu hadir sebagai matahari. Ku tunggu dirimu dalam background berbahan pantai. Langit bersemburat oranye, dan kilau warna yang syahdu, selalu ku nikmati.

Aku yang walau hanya setetes embun. Membuat kesalahan dengan berani memilih mu sebagai hal yang aku cintai. Cinta tanpa alasan, sering rasanya mengintimidasi hati. Embun tercipta kala dingin, sementara matahari?
Benar... matahari jikalau dirinya ada, maka akan sirnalah aku. Kutegaskan kembali, matahari itu kamu, dan embun itu aku. Kita dalam hidup nyata, yang tidak pernah bisa bersama.

Wahai matahari, aku tahu kekuatanmu besar. Kehangatan mu saja akan menghilangkan aku. Sehingga bisa ku realisasikan jika kamu membentak ku, maka diriku akan pergi. Bisa jadi meninggalkan mu.
Baik, aku bisa mencari celah di tempat lain. Ditempat yang dingin tentunya, disana aku akan singgah. Tetapi ketahuilah satu hal, bahwa embun tetap mencintai matahari, walaupun matahari pernah menyakitinya. Dan sampai akhirnya, akan membuat ku (baca: embun) mencair sampai aku sirna. Itu bukan berarti permasalahan besar bagiku. Karena   ada harapan yang ingin kusampaikan, bahwa ditempat dingin ini aku bersinggah sebagai pengagum yang mencintaimu secara tulus. Secara diam. Secara sembunyi. Karena sampai kapanpun, cukup jelaslah matahari dan embun tidak pernah berjalan beriringan. Dan akhirnya seperti kutipan berikut, kisah ini akan berakhir:

"Rinduku ialah embun yang meniti sepi daun, lalu jatuh di bara hatimu lenyap menjadi kesunyian." - Mahesa Aditya 

Sabtu, 03 November 2012

Bertemu Rindu (Sabtu Malam)

Dalam pandangan kosong, ku menatap layar handphone ku. Apakah aku berlebihan, jika aku memohon agar benda mati itu berdering? Aku butuh seseorang yang  bisa ku ajak bicara dan membuatku hanyut dalam gelak tawa. Tetapi yang terjadi kini,

Sunyi...
Kelam memeka,
Dan aku berteman sepi

Jelas aku tidak lupa akan hari ini. Benar, bagi para perempuan seperti ku mungkin lebih tepat untuk menyebut dengan  SABTU MALAM. Dalam pikir ku, masih samar untuk bercerita tentang malam Minggu.  Aku lupa, "Apa sih kegiatan yang bisa dilakukan remaja pada malam Minggu?" Ah pasti jawaban yang paling cerdas adalah, ada dari antara mereka yang masih terbelit oleh tugas sekolah. Oh kejamnya......
Hanya ditemani oleh laptop dan beruntung koneksi internet malam ini tidak membuatku gondokan. Terlebih lagi, aku mendengarkan lagu Little Things by One Direction. Seenggaknya mampu mengurung emosiku yang biasanya garang layaknya preman. Jadi beginilah edisi Sabtu malam ku.

Malam yang dingin setelah hujan membasahi bumi. Namun, aku masih tetap saja merindukan hujan. Sedang ingin dia (Baca: hujan) apel di Sabtu malam ku, sungguh kuinginkan kembali. Mungkin dengan begitu, bisa saja tidur ku nyenyak. Aku lelah dengan semua rindu ini. Aku ingin tidur lebih cepat, agar rindu yang bising ini dapat terbungkam.
Tetapi apa yang kudapat?
Rindu tetap meraung, sampai terkadang dia menjemput dalam mimpi. Dia datang bagaikan sosok samar seorang yang kurindukan. Julukan mimpi indah atau buruk kah itu? Setelah pagi tiba, keringat tak jarang menetes dari pelipis. Lalu kuteguk segelas air, keadaan normal tubuh kurasa. aku bukan bagian dari hidupnya. Rindu ini hanya untukku. Dan kamu tidak punya rasa yang sama denganku. Aku setuju dengan  kutipan ini,
"Saya masih tidak tahu, kenapa ada rindu yang diciptakan untuk seseorang yang tidak pantas dirindukan." - Titisan Senja
Memang, cinta adalah buta. Saat pikiran mencoba melepas, tetapi hati berkata untuk bertahan. Sungguh mereka tidak bisa sinkron. Sama halnya seperti berkali kamu telah disakiti, namun luka yang kamu derita tertutup oleh kenangan yang pernah dijalin. Oh that awkward moment!
Maka jangan sebut seseorang setelah patah hati lalu mereka menutup hati, melainkan mereka hanya ingin berhati-hati. Menjaga hati agar tidak lebih merasakan luka lebih nyeri.

Selamat ber-Sabtu malam, wahai sahabatku

Senin, 22 Oktober 2012

Berdiri di Ambang Pintumu

Disini tempatku...
Aku selalu berdiri di ambang pintumu. Berharap kamu mau menengok sesaat. Bayangkan kamu menyapa saja, aku tak mampu. Jadi tak pantaslah kamu menyebutku sebagai penghayal. Namun, sebagai penyapamu terlebih dahulu, itu bukanlah aku. Benar, diriku bukan tipe perempuan agresif.

Ah entah sampai kapan aku berdiri disini...
Mengetuk pintumu aku tak mampu, jadi bagaimana bisa aku masuk kedalam sudut ruang pribadimu?
Akan kujelaskan yang kurasa saat ini. Nampaknya kata aktif: menunggu dan kata pasif: disapa sedang mengekor hidupku. Dan pada pikirku dalam sepi, akan kutitipkan salam untukmu,
"Tegur bila memang harus, jangan hanya diam dan lalu berlalu tanpa pernah memberitahu..." - Pelukis Lara
Karena sesesungguhnya aku masih menginginkan. Aku masih mempertahankan, dan saat ini pikirku tentangmu belum berubah, masih terbayang cerita tentang dirimu yang dahulu. Lekaslah menyapa, jika kamu telah merasa rindu yang kurasa. Kapanpun itu, aku masih disini, berdiri diambang pintu, yang tak akan pernah terlihat olehmu...

Kamis, 18 Oktober 2012

Senyum Penguatku

Hidup...
Mungkin bisa ku gambarkan  bahwa aku hanyalah seorang penari. Dimana aku ini sedang bertindak meliuk-liukkan tubuh, aku melompat, aku berputar, yah jika boleh dijabarkan hidupku adalah alunan tarian  mengikuti dentingan melodi yang sedang dibunyikan. Ada kalanya aku bersemangat dengan alunan musik hip hop, ada kalanya pula aku mengalun dengan lemah gemulai dengan alunan musik slow. 

Dalam hidupku tak tentu ada kesenangan yang secara terus menerus berlangsung, atau kalau boleh dibilang apakah hanya kesedihan itu yang terus menerus kurasa? Ah... tentu saja aku kurang bersyukur jika aku mengucap seperti itu.
Hidup memberiku berbagai cerita. Dari yang mulai dikhianati, dicurangi, belajar memilih, menyayangi, merindu, kehilangan, cemburu, iri hati, bersyukur, dan berbagai macam hal lainnya. Hidupku penuh dengan senyum. Apa kamu percaya itu? Kamu tidak akan mengerti senyuman yang aku punya ini senyum tulus, senyum kesenangan, ataupun senyum perih kesakitan. Karena kamu tidak akan pernah tahu, ada beberapa orang yang lebih sering menguatkan diri dengan tersenyum. Benar, orang tersebut tentunya diriku. 

Perempuan lemah...

Tetapi yang aku percaya kini, dibalik masalah yang membelitku, aku masih punya Dia yang kuat. Tak jarang aku selalu bercerita denganNya. Bercerita melalui malam yang sunyi, tempat dimana aku bisa leluasa mengeluhkesalkan semuanya. Bisa jadi aku menangis. Aku tidak cukup gila untuk merusak diriku dengan memukulkan tanganku pada serpihan kaca ataupun membenturkan kepala ke tembok. Tak perlu bersusah, untung saja setelah usai berdoa aku cukup lega.
"Karena berdoa adalah cara yang paling sederhana yang Tuhan berikan untuk dekat dengannya." - jejak sajak